Menjelang pergantian kepemimpinan nasional pada Oktober 2024, Kementerian ESDM (Energi dan Sumber Daya Mineral) semakin gencar mendorong peningkatan investasi EBT (Energi Baru Terbarukan). Dengan target ambisius mencapai bauran energi 23 persen pada 2025, ESDM berusaha keras untuk mengatasi hambatan-hambatan yang selama ini menghalangi perkembangan sektor EBT.

Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi menekankan bahwa kurangnya minat investasi menjadi salah satu penyebab utama lambatnya pencapaian target bauran energi.

“Banyak yang bertanya mengapa target bauran EBT sebesar 23% belum tercapai. Jawabannya adalah karena investasinya masih minim,” kata Eniya dalam keterangannya pada Sabtu, 6 Juli 2024.

Untuk mengatasi kendala ini, Eniya menjelaskan bahwa Kementerian ESDM telah membuka lebar-lebar peluang investasi EBT melalui Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) yang telah dirancang dengan sangat hijau dan diharapkan segera rampung.

“Kami berupaya mengatasi hambatan investasi ini agar dalam beberapa bulan ke depan dapat terlihat akselerasinya,” tambah Eniya.

Salah satu hambatan utama yang dihadapi adalah Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) dan kolaborasi antar pemangku kepentingan. Eniya menyebutkan bahwa aturan terkait TKDN telah diselesaikan dan disepakati bersama dengan Kementerian Perindustrian serta Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).

“Masalah TKDN sudah clear dengan Kementerian Perindustrian, dan aturan ini akan segera diterbitkan dalam bentuk dua peraturan menteri,” ungkapnya.

Dengan terbitnya peraturan tersebut, Eniya berharap dapat mempercepat investasi EBT, mengembangkan industri lokal, dan mendorong peningkatan kontribusi energi terbarukan.

“Semoga aturan ini bisa mempercepat investasi dan bauran energi kita semakin terakselerasi. Proses dekarbonisasi pun diharapkan dapat berjalan lebih baik,” lanjutnya.

Menurut catatan Kementerian ESDM, bauran energi terbarukan pada akhir 2023 baru mencapai 13,1 persen. Pemerintah menargetkan peningkatan bauran energi nasional hingga 19,49 persen pada akhir 2024 dan optimis mencapai 23 persen pada tahun 2025. Upaya ini memerlukan dorongan kuat untuk pengembangan EBT, baik dari sisi kapasitas terpasang, produksi, maupun konsumsi.

Dalam menghadapi tantangan ini, pemerintah berkomitmen untuk terus mendukung investasi EBT dan memastikan bahwa kebijakan serta regulasi yang mendukung pengembangan energi hijau dapat diterapkan dengan efektif. Dengan demikian, Indonesia dapat mencapai target bauran energi dan berkontribusi secara signifikan terhadap pengurangan emisi karbon global.

Demikian informasi seputar perkembangan investasi EBT di Indonesia. Untuk berita ekonomi, bisnis dan investasi terkini lainnya hanya di Androidbo.Com.